Asal Usul Orang Bolaang Mongondow

0
543

PADA abad XII ketika dinasti KUBILAI KHAN runtuh di negeri Cin, suku Mongolia yang mendiami Yunan atau Hindia Belakang, berhijrah ke Asia Selatan dan Timur.

Yang bermigrasi ke Sulawesi Utara adalah bagian dari rombongan gelombang kedua (Deutro Melayu), ada yang  ke Formosa atau Taiwan, Philipina Selatan dan ada pula yang ke Kalimantan, Maluku, Ternate dan pulau – pulau lainnya.

Dipandang dari postur tubuh, warna kulit dan kesamaan beberapa kata dalam bahasa, maka ditemukan di pantai utara Bolaang Mongondow (Bintauna, Sangkub, Babo) adalah bagian dari mereka yang mendarat di Philipina Selatan (Mindanau). Kesamaan beberapa kata dalam bahasa suku antara lain adalah : Tondok (pagar), tubig (air), tagin (pisang), payoi (padi), manuk (ayam), moinit (panas), bogat (beras), bango (kelapa) dan sebagainya.

Diantara orang-orang Mongolia yang mendarat dipantai utara yang kemudian dikukuhkan sebagai nenek moyang atau leluhur orang Bolaang Mongondow adalah :

  1. GUMALANGIT atau BUDULANGIT (turun dari langit)          :  Laki – laki.
  2. TENDEDUATA (cantik seperti dewi)                                          :  Wanita.
  3. TUMOTOI BOKOL (berjalan diatas ombak)                               :  Laki – laki.
  4. TUMOTOI BOKAT (berjalan dipecahkan ombak)                       :  Wanita.

Perkembangan selanjutnya adalah sebagai berikut :

  1. GUMALANGIT BUDULANGIT atau TENDEDUATA (SANGO – SANGONDO) menikah, kemudian memperoleh anak lain DUMONDOM atau DININDONG dan SAMALATITI, keduanya wanita.
  2. TUMOTOI BOKOL dan TUMOTOI BOKAT menikah dan memperoleh anak laki – laki yang diberi nama SUGEHA.
  3. Setelah dewasa DUMONDOM dan SUGEHA dikawinkan (belum ditemukan keterangan tentang keturunan anak – anak mereka).

Ketiga rumah tangga tersebut di atas, terus berkembang biak dan kemudian dikukuhkan sebagai leluhur atau nenek moyang orang Bolaang Mongondow. Pada mulanya keluarga besar ini bertempat tinggal di hulu sungai Sangkub tidak jauh dari Bintauna dan Babo. Lambat laun populasinya semakin besar dan sebagian dari mereka mulai mencari tempat pemukiman baru.

Penyebaran mereka ke berbagai tempat dibagi dalam :

  1. Kelompok dari keturunan TUMOTOI BOKOL dan TUMOTOI BOKAT yang dipimpin oleh “Boganinya”, menuju ke Babo, Pondoli (Pindol) dan sekitarnya.
  2. Kelompok dari keturunan GUMALANGIT dan TENDUTUATA ke Huntuk – Baluda’a (Tempat tumbuhnya pohon keramat yang dinamakan “Komasaan atau Inomasa” ) dan sebagian lagi menuju ke pedalaman Bolaang Mongondow yang dikenal dengan nama “Lopa in Mogutalong” (banyak ditumbuhi damar). Ketika mereka tiba dipedalaman, mereka selalu memilih tempat yang lebih tinggi dan berbukit.
  1. PENAMAAN BOLAANG MONGONDOW.

Dahulu ketika dataran passi – lolayan dan Dumoga adalah sebuah danau. Kerena proses alamiah, maka pada satu ketika gunung Pinoba Dumpea, Inontang dan Ilansikan putus. Air mengalir ke tempat yang lebih rendah (ompuan) dan danau menjadi kering. Bekas danau tadi adalah dataran yang sangat luas dan banyak ditumbuhi kayu damar atau talong dan karena itu dataran ini dinamakan “lopa in mogutalong” dengan sungainya yang disebut “tubig mogutalong” atau “sungai mogutalong”. Sementara itu Dumoga disebut dataran Dumoga dan sungai Dumoga-nya.

Lopa’ in Mogutalong dan Lopa’ in Dumoga inilah yang kemudian dinamakan “pedalaman Bolaang Mongondow”, sebagai tujuan perpindahan keturunan GUMALANGIT dan TUMOTOI BOKOL dari tempat asalnya Sangkub, Babo, Bintauna dan sekitarnya. Kelompok – kelompok yang hijrah ke pedalaman Bolaang Mongondow selalu mencari tempat yang lebih tinggi (beebukit) agar terhindar dari bahaya banjir dan sebagai antisipasi serangan baik hewan buas maupun manusia lainnya. Selain itu mereka juga selalu mencari lokasi yang terang  terbuka, sehingga sinar matahari tembus sampai ketanah dan tanaman – tanaman mereka dapat subur dan memberikan hasil/buah yang banyak.

Lokasi yang terbuka – terang, ditembusi sinar matahari sampai ketanah inilah yang dinamakan “GOLA’ANG” sebagai asal kata dari BOLAANG atau GOLAANG = BOLAANG.

Selanjutnya, kelompok – kelompok penduduk yang dipimpin oleh seorang “BOGANI”, tidak tinggal bersama disatu tempat saja melainkan terpisah – pisah satu dengan lainnya. Untuk mempermudah hubungan atau komunikasi antara mereka, maka dipergunakan bahasa isyarat yaitu SUARA atau TERIAkAN KERAS yang dalam bahasa Mongondow dinamakan “MOMONDOW”. Dari kata inilah diciptakan kata MONGONDOW sebagai padanan kata BOLAANG dan jadilah nama wilayah atau daerah BOLAANG MONGONDOW. Bersambung…

(Disadur dari Blog Afriadi Mokoagow)