Devis Oktavianus, Awali Karir Dari Nol Hingga Sukses Karena Doa Ibu

0
536

TOMINI.NEWS, MANADO-Siapa yang tidak kenal dengan Devis Oktavianus Pinontoan S.Pd.K M.Pd, sering wara-wiri menghiasi layar kaca anda sebagai penyiar Kompas TV dan penyiar Radio Smart FM. Tapi tahukah anda bagaimana perjuangannya hingga bisa sukses seperti saat ini?

Foto istimewa

Awal cerita, anak dari Ventje Nicolaas Pinontoan (Alm) dan Ester Ellen Samahati Tabigo, kelahiran Manado 07 Oktober 1990 memulai karirnya dari angka nol sebagai penyiar radio.

Dia memilih menjadi penyiar radio pada tahun 2008 karena tertarik dengan komunitas radio dan berkeinginan untuk bekerja setelah selesai menuntut ilmu dari bangku SMA.

Foto istimewa

“Jadi setelah lulus SMA saya tidak langsung kuliah. Saya kerja selama setahun baru kuliah, sekalian tambah-tambah pengalaman kerja,” ujarnya.

Selang delapan tahun kemudian tepatnya tahun 2016, Devis kembali mengembangkan potensi diri merintis karir barunya bergabung bersama Kompas TV Manado.

Foto istimewa

“Jadi pekerjaan ini saya lihat sebagai potensi dan mengalir secara otodidak dan akhirnya ditekuni sampai saat ini. Selain itu pekerjaan ini menjadi hobi yang dibayar,” ujarnya bahwa ini adalah passion dan anugerah dari Tuhan Yesus Kristus.

Meski demikian bukan berarti karirnya berjalan mulus tanpa adanya hambatan. Sebab pada tahun 2017 Devis sempat memutuskan untuk berhenti dari karirnya sebagai penyiar yang lagi melejit karena akan melanjutkan study Strata 2 di Kampus IAKN Manado.

Keputusan tersebut diambil olehnya sebelum kembali lagi sebagai penyiar pada Februari 2020 sebab ingin membanggakan kedua orang tuannya.

Apalagi diawal studi pada pendidikan Strata satu, Devis harus mengikhlaskan kepergian ayah tercinta yang meninggal dipanggil pulang oleh Bapa di Sorga.

Dia pun harus meneruskan perjuangan ayahnya, menempatkan posisi sebagai ayah dan anak, menjaga ibunya sebagaimana pesan dari sang ayah tercinta.

“Saya ingat pesan Almarhum, bahwa harus terus berjuang melanjutkan studi sampai S2 dan membanggakan dirinya, meski telah berada di dunia yang berbeda,” ujarnya penuh haru.

Sontak kejadian tersebut bagaikan menyulut bara api diatas kertas, Davis semakin giat belajar dan melatih kemampuan public speaking.

“Saya memilih melanjutkan study S2 sambari bekerja sebagai penyiar Kompas TV dan FM Radio. Saya berjuang keras untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita ini,” ujarnya bahwa pekerjaan dan studinya begitu padat.

Bagi dia, kehilangan sosok ayah ibaratkan kehilangan seorang pahlawan. Hal itulah yang membuat dirinya terus bertahan ditengah gelombang hidup yang semakin terjang, dimana ia harus membiayai kuliah dan kebutuhan hidup bersama ibunya setiap hari.

“Pada waktu itu yang ada di dalam kepala saya hanyalah bagaimana cara menikmati proses Tuhan, terus berpikir positif dan masa bodoh dengan orang-orang yang tidak ingin melihat saya maju dan sukses,” ujarnya memotivasi.

Selain doa orang tua, dukungan dari pacar atau calon pasangan hidup tidak luput dari cerita hidupnya sehingga mencapai posisi seperti saat ini.

“Selama sembilan tahun dia memberikan saya semangat, bahkan saat saya berada di titik nadir. Dia terus menyemangati,” ujarnya kemudian tersenyum berharap pandemi Covid-19 segera berlalu agar impiannya untuk menikah segera terwujud.

Devis sapaan akrabnya, kemudian berpesan kepada kaula muda yang baru saja menyelesaikan studi di bangku SMA bahkan yang telah kehilangan sosok seorang ayah agar terus tegar bak karang yang diterjang ombak.

“Jangan pernah ragu untuk melakukan hal-hal produktif yang kamu rasa dapat dilakukan. Nikmati proses dan anugerah dari Tuhan Yesus, sebab setiap manusia punya talenta masing-masing, tinggal bagaimana cara kita menggunakannya,” ucapnya.

Bukan Davis namanya jika langsung menyerah ketika menghadapi rintangan dan cobaan dalam hidup, sebab bagi dia doa ibu adalah senjata ampuh untuk menuju keberhasilan.

Apalagi di masa pandemi seperti ini bukan sedikit yang mengalami cobaan luar biasa, termasuk kehilangan pekerjaan serta melemahnya ekonomi dari semua usaha.

“Apalagi masa pandemi seperti ini jadikan momentum untuk merefleksikan diri dan jadikan peluang untuk berkembang lihat potensi diri dan kembangkan sesuai kebutuhan di lapangan,” tambahnya.

Tak lupa doa dan ucapan terima kasih disampaikan kepada Rektor IAKN Manado yang menyelamatkan potensi di Kampus S2, serta orang-orang terbaik yang dikirim Tuhan untuknya.

“Itulah sebagian kisah yang bisa saya bagikan, yang kiranya dapat memotivasi generasi muda agar meninggalkan kegiatan negatif yang akan merusak potensi dalam diri, kita bisa kalau kita mau mencoba,”ujarnya yang kini menjadi publik figur dan aktif di dunia pendidikan. (Felix Tendeken)

Editor Felix Tendeken